Keinginan Untuk Belajar (lagi)

Bismillah, assalamu’alaikum!

Apa kabar..?

Rasanya kalau sudah bekerja rada berbahaya juga. Lama kelamaan bisa terbiasa dengan rutinitas yang ada, merasa “cukuplah begini”, sudah beruntung bisa bekerja mendapat penghasilan jika dibandingkan orang lain yang tidak seberuntung kita. Padahal seharusnya tidak boleh merasa demikian. Saya pribadi merasa harus senantiasa mengeksplor diri, menambah wawasan, dan meng-upgrade kapasitas diri. Dengan apa? Tentu banyak sarana dan medianya, saat ini masih berpikir karena plan A, yaitu langsung melanjutkan studi S2 setelah lulus, sepertinya tidak akan bisa dieksekusi dalam waktu dekat. Hehe. Tidak masalah, Allah tahu yang terbaik, alhamdulillaah. Saya pun akhir-akhir ini berpikiran demikian, tidak langsung kuliah adalah memang yang terbaik. Banyaklah alasannya, bisa jadi satu tulisan tersendiri. Dan memang harus senantiasa berterima kasih kepada Allah, perasaan yang luar biasa :)

Saat ini sedang semacam mengalami perasaan rindu (halah), pengen belajar, masuk kelas, dan nyatet-nyatet materi di kertas/laptop. Mungkin ini karena dulu saya kurang pandai membagi perhatian kuliah dan aktivitas kemahasiswaan (udah lama banget ini mah ya). Jadinya seperti 80% nge-BEM dan 20% kuliah haha jangan ditiru. Tapi sebenarnya, dalam diri ini selalu ada dorongan tersendiri untuk belajar dan alhamdulillaah, tentunya dorongan seperti itu harus disyukuri ya. Dorongan ini muncul mungkin karena dari kecil selalu diikutkan les macam-macam heuh. Mulai dari sempoa untuk aritmatika, bahasa inggris, sampai les renang itu les dari SD yang saat ini saya sangat merasakan manfaatnya. Masih teringat dan jadinya rindu tadi, terutama ketika di kelas Cambridge dan LIA. Sebetulnya dulu agak bete sih, karena jadinya kepotong waktu mainnya sama teman-teman SD haha.

Yaa semoga bisa tersalurkan dengan baik. Sekian.

Advertisements

Sebuah Kesan di Balik Profile Picture

Assalamu’alaikum. Selamat sore ^_^
Semangat sore!?

Kali ini mau sedikit membuka rahasia karena ada teman deket yang nanyain tentang foto-foto profil gue yang seringnya pakai karakter di anime-anime tertentu. Alasannya apa? Ada alasan personal yang menurut gue berkesan. Mari kita bahas!

1. Kugayama Muneyoshi dari anime HYOUKA

Karakter ini sebetulnya ga begitu terkenal, dia mungkin cuma muncul sekali di anime Hyouka. Perannya adalah Ketua OSIS di anime Hyouka.

2. Agata Soujiro dari anime S.K.E.T Dance

Berikutnya Agata, perannya juga Ketua OSIS di anime S.K.E.T Dance. Ada kesamaan ya sampai sini? Hoho.

Kalau mau menyimpulkan gue lebih sering pakai karakter Ketua OSIS dari suatu anime, boleh. Karena memang itu alasannya. Karakter-karakter seperti Kugayama dan Agata selalu mengingatkan bahwa gue juga pernah jadi “Ketua OSIS” di kampus. Ya, kalau di kampus bukan OSIS, tapi lebih pasnya BEM. Entah, gue selalu merasa bersyukur bisa punya tim kayak BEM FMIPA 2014, dikasih kesempatan buat jalan bareng mereka. Merasakan setiap emosi selama 2014 dan lain sebagainya. Minimal bagi gue pribadi, kesan tersebut begitu mendalam. Mereka menambah warna di kehidupan gue. Dan gue sangat berterima kasih akan hal tersebut. Thank you, ya :)

Jadi, ya, ketika gue pakai profile picture karakter-karakter di atas atau mungkin karakter baru dari anime lainnya, itu cuma sebagai pengingat kalau gue ada kemiripan dengan karakter tersebut. Bahwa kita punya tim yang selamanya jadi kebanggaan. Dan gue gak akan pernah melupakan kontribusi mereka yang sukarela itu. Tiap individu selalu bisa memberi gue pembelajaran kehidupan ke depan. Hehe, begitulah kira-kira.

Cukup sekian tulisan kali ini, ringan banget. Bingung juga sih mau nulis apa :)

Sampai jumpa lagi dan selalu jaga kesehatan!

Wassalamu’alaikum wr wb.

 

Where To Next..?

Bismillah,

Beberapa waktu lalu, saya sempat menulis lengkap pidato Dr Warsito di momen pelepasan karyawan CTech Grup Indonesia di blog ini. Waktu itu saya memang sedang iseng untuk menulis langsung, via smartphone saya, apa yang Dr Warsito tuturkan ketika menyampaikan pidato perpisahannya. Jujur saja, saya tidak pernah menyangka trafik blog ini jadi begitu tinggi. Total pengunjung selama hanya seminggu lebih banyak jumlahnya dari total kurang lebih empat tahun saya nge-blog di sini, haha -_-. Postingan berjudul “Pidato Dr Warsito di Pelepasan Karyawan CTech Grup Indonesia” betul-betul sebuah fenomena, minimal bagi saya sendiri. Pengunjung blog ini lebih dari 12.000 orang, sementara views-nya lebih dari 17.000 views hanya dalam waktu satu minggu! Kejutannya tidak berhenti sampai di situ. Karena setelah saya amati lebih jauh, ternyata pengunjung yang membaca tentang pidato Dr Warsito bukan hanya berasal dari Indonesia, melainkan juga dari luar negeri. Pengunjung luar negeri terbanyak dari Amerika, Jepang, Jerman, Singapura, Belanda, Malaysia, Arab Saudi, dan lain-lain. Dan kalau kalian mengira pengunjung ini hanya “pengunjung nyasar”, kalian salah. Karena dari Amerika sendiri total pengunjung mencapai lebih dari 900 pengunjung dan dari Jepang, Jerman, dan Singapura mencapai ratusan pengunjung.

Screenshot_2016-03-02-11-42-38Hal ini membuat saya berkesimpulan kalau Dr Warsito memang banyak diikuti / dipantau pergerakannya oleh orang-orang di luar negeri. Hal ini juga membuat saya percaya kalau ada yang bilang bahwa banyak negara ingin “meminang” karya Dr Warsito ini. Dan dari kejadian ini saya semakin sadar kalau Dr Warsito adalah seorang pembesar yang diperhitungkan di dunia akademisi. Satu update-an statusnya bisa membuat banyak cerita di situs-situs daring pewarta berita. Satu pidatonya bisa membuat blog remeh temeh + antah berantah ini dikunjungi banyak orang dari berbagai belahan dunia.

Fakta di atas juga sekaligus menekankan bahwa saya sebagai penulis pidatonya bukanlah siapa-siapa. Blog saya sempat ramai bukan karena saya yang menulis isinya tapi apa yang saya tulis menceritakan seseorang yang “hebat”. Begitulah. Saat ini boleh dikatakan saya tidak merasa bangga atau rasa apa pun itu untuk bisa mengabadikan pidato Dr Warsito lewat tulisan. Toh, saya juga tidak melakukan apa-apa. Namun satu hal yang pasti, kejadian ini menumbuhkan keinginan di dalam diri pribadi untuk suatu hari nanti bisa menjadi seseorang yang diperhitungkan juga.

***

Alhamdulillah, selama di CTech Labs satu paper sudah selesai saya kerjakan :)

Publikasi? Duh, rasanya kalau riset tanpa seorang pembimbing yang bergelar minimal PhD itu susah ya. Saya memahami ini karena dr Rizki Edmi Edison, PhD yang sebelumnya menjadi kepala Neuroscience Laboratory di CTech Labs sudah keluar, melanjutkan dedikasinya di Uhamka. Alhasil, anggota di Neuroscience Lab sendiri inisiatif me-review buku tentang neurosains dan kegiatan mandiri lainnya, sementara saya fokus menyelesaikan satu paper ini. Paper ini sederhana saja memang, saya menggunakan algoritme supervised learning untuk mempredikasi hasil pemindaian phantom menggunakan Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT) Brain. Jujur, kalau saya harus mendalami disiplin neurosains, rasanya overwhelming. Karena dr Edmi sendiri mendalami disiplin ilmu tersebut sampai jenjang PhD, sementara background saya computer science. Jadi, saya memilih untuk melakukan penelitian dengan neurosains (berupa data kapasitansi otak) hanya sebagai objek penelitian. Teknik yang saya gunakan masih berhubungan dengan computer science, yaitu machine learning.

paper1

Kemungkinan, bulan Maret ini adalah bulan terakhir saya di CTech Labs.

Pertanyaannya: bisa tidak ya dalam satu bulan terakhir ini, menulis satu buah paper lagi..? :)

Demikian tulisan kali ini. Terima kasih dan jaga kesehatan selalu.

Barakamon! “Slice of Life” Pedesaan yang Menarik untuk Dibaca

Bismillah..

Assalamu’alaikum! ^_^

Kekeke, rasanya gue terkena sindrom rajin posting (hanya) di bulan Januari. Dan sekarang tahu-tahu udah awal bulan Maret aja.

Oke, tulisan kali sederhana. Tentang sebuah manga yang baru mulai gue baca. Barakamon, manga ber-genre comedy dan juga slice of life yang artinya sendiri adalah “anak yang bersemangat”. Dan sebetulnya, udah lama gue tertarik buat nikmati manga / anime ber-genre slice of life gini. Ya, sekedar untuk merilekskan pikiran dari hiruk pikuk rutinitas kehidupan di perkotaan. Cuma selama ini belum nemu judul anime slice of life yang rasanya worth it buat gue ikutin terus. Anime, bukan manga, karena selama ini gue update-nya via animax aja hehe. Sampai akhirnya beberapa hari lalu gue ngelihat manga Barakamon ini. Cover-nya ngebuat gue tertarik, gambarnya bagus, sederhana, dan enak dilihat. Kemudian gue baca sinopsisnya di balik komik, ternyata ini tentang kehidupan seorang pemuda di pedesaan. Wow, slice of life dan ini di pedesaan, entah kenapa gue merasa inilah yang gue butuhkan. Gue selalu menyukai suasana tenang dan ramahnya warga pedesaan. Tapi pada saat itu, gue gak langsung beli manga Barakamon-nya (karena masih mikir-mikir). Baru kemarin setelah dari rumah sakit, mampir ke toko buku dan akhirnya memutuskan untuk beli Barakamon, dua jilid sekaligus.

barakamon

Setelah gue buka dan baca bukunya, jujur, gue sedikit kecewa haha (baru mulai nge-review udah kecewa aja Baim). Gue kecewa karena gambar bagus nan sederhana di cover-nya gak sesuai dengan yang ada di dalam manga. Dalam artian, yang di dalam manga agak sedikit lebih berantakan dan sepertinya kurang niat untuk diselesaikan. Tapi, oke, untuk standar gambar di dalam manga, gue akuin emang standar yang gue set terlalu tinggi, dan ini banyak dipengaruhi oleh kualitas penggambaran manga super One Piece yang detail gambarnya gak kira-kira. Pun sejujurnya, sebelum memutuskan untuk beli manga ini, gue udah googling untuk riset kecil-kecilan mengenai gambar asli di dalamnya. Tapi tetep aja gue yang memutuskan untuk beli, jadi masalah gambar ini sebetulnya bukan suatu hal yang besar, kok :)

Lanjut, gue lebih suka dengan genre-nya yang slice of life dan latar belakang ceritanya yang di pedesaan. Inilah faktor penentu yang ngebuat gue akhirnya memutuskan untuk coba baca manga Barakamon. Bener aja, salah satu bab ceritanya adalah tentang Seishu Handa (karakter utama) yang baru pindahan ke suatu desa terpencil di Pulau Goto, sebelah barat Jepang. Di cerita tersebut, para penduduk desa dengan ramahnya ngebantuin Handa buat pindahan, unload barang dari kardus-kardusnya yang banyak banget, tanpa dimintai tolong sebelumnya sama Handa. Mereka inisiatif dateng ke rumah pindahannya Handa karena alasan sederhana, mereka melihat mobil truk pindahan lewat. Hal itu ngebuat mereka berkesimpulan ada orang yang baru pindahan dan mereka memutuskan untuk ngebantu tanpa diminta! Waah, bagi gue yang pencinta suasana damai, cerita ini menarik hehe. Ditambah banyak karakter-karakter pendukung dengan watak pedesaan mereka yang ngebuat cerita semakin menarik bagi gue.

  • Naru Kotoishi (anak kecil nakal yang sering gangguin Handa, gue rasa arti kata Barakamon me-refer ke dia)
  • Kōsaku Kotoishi (kakek Naru yang ngasih tumpangan gratis ke Handa pake traktor pas Handa menuju tempat tinggalnya di Pulau Goto)
  • Miwa Yamamura (anak SMP tomboi, jadi temennya Handa)
  • Tamako Arai (anak SMP otaku, temennya Miwa, jadi temennya Handa)
  • Hiroshi Kido (anak kepala desa, kerjanya nganterin makanan buat Handa, anak SMA)
  • Hina Kubota (anak kecil pemalu temennya Naru)
  • Kentarō Ōhama (anak botak nakal temennya Naru)

Dan masih banyak lagi karakter lainnya, seperti pak kepala desa, nenek-nenek penjaga toko, pak wakil kepala sekolah dasar, dan lain-lain. Ada satu hal yang agak gue sayangkan, yaitu tidak adanya nama karakter dua anak kecil temennya Naru sejauh dua volum gue membaca. Rasanya kayak mereka gak dianggap, sayang sekali kan.

Barakamon2

Setelah membaca dua volum manga Barakamon, gue suka ceritanya. Apalagi setelah mengetahui bahwa ada kemiripan antara gue dan Handa, yaitu sama-sama berumur 22 tahun. Hoo. Terakhir, ada lagi alasan kenapa gue jadi sangat suka Barakamon. Ternyata, setelah gue baca bagian dialog penulis dan pembaca di halaman terakhir manga, Satsuki Yoshine mengakui bahwa Barakamon 80% berdasarkan pengalaman pribadinya pergi ke Pulau Goto. Handa dianter pakai traktor oleh kakeknya Naru pun berdasarkan pengalaman Yoshine yang diantar pakai traktor di kehidupan sesungguhnya. Bahkan dia memberikan foto-foto kejadian aslinya (di Pulau Goto) yang dia ceritakan kembali dalam bentuk manga. Keren! Lebih lanjut, selain Yoshine jadi punya modal kuat cerita Barakamon, dia juga berhasil dengan baik membawa pembacanya untuk turut berada di pedesaan dengan dukungan karakter dan aktivitas-aktivitas yang ada di manga Barakamon. Good job!

Jadi, apakah gue akan melanjutkan baca Barakamon? Yup, tentu saja :)

Sekian, terima kasih. Jaga kesehatan untuk semuanya..