My Country…

Sedih banget lihat keadaan negeri kayak giniiiiiiiiii! Argh :(

Advertisements

Untuk Saudara-Saudara Seperjuangan

Agar cinta tak menghadirkan derita, cinta yang tumbuh karena iman, amal shalih, serta akhlak yang mulia, akan senantiasa tumbuh subur dalam jiwa mereka. Cinta mereka tak kan pernah pudar, bahkan tak kan habis meski matahari terbit dari barat. Dan gunung-gunung pun berterbangan bagai kapas. Karena cinta hakiki kan dibawa sampai mati. Bahkan akan bersambung hingga akhirat nanti. “Orang-orang yang (semasa di dunia) saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az Zukhruf:67.

🌷🌷🌷
Cinta sejati hanya akan bersemi dari iman dan akhlak terpuji. Cinta ini tak kan pudar di telan masa, tak kan pupus meski akhir usia, tak mudah goyah meski badai menerpa, dan tak kan luntur meski sudah lanjut usia. Yahya bin Mu’adz berkata: “ Cinta karena Allah tidak akan bertambah hanya karena orang yang engkau cintai berbuat baik kepadamu, dan tidak akan berkurang karena ia berlaku kasar kepadamu.” Allahu a’lam bisshawwab.
Agar cinta tak menghadirkan derita, mendekatlah pada Yang Maha Cinta, Allah SWT.

*AIHQ (Ayah Ibu Hafidz Quran)*
#Menguatkan

Sumber: http://ayunurjannah.tumblr.com/post/138980982797/potongan-kajian-aihq

Pidato Dr Warsito di Pelepasan Karyawan CTech Grup Indonesia

Bismillah,
Di acara ramah tamah sekaligus pelepasan karyawan malam kemarin, Dr Warsito memberikan sebuah pidato sambutan. Karena gue iseng, akhirnya memutuskan untuk menulis langsung apa yang Dr Warsito bicarakan di pidato sambutannya tersebut. Selama menulis isi pidatonya, gue sadar dari apa yang beliau bicarakan, bahwa Dr Warsito memang adalah seorang pembesar yang visioner. Berikut apa yang disampaikannya:

“Merupakan suatu kebanggaan bagi kita bisa bertemu, walau mungkin dalam suasana yang tidak terlalu sempurna. Tapi, ini bagian bagaimana kita berkontribusi untuk dunia.

“Apa yang kita kerjakan benar-benar sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang selama ini dipandang tidak mungkin, menjadi mungkin. Dan kita lakukan itu semua di hadapan diri kita sendiri.

“Banyak orang belum percaya dengan hasil dari apa yang kita kerjakan. Hanya sebagian kecil saja yang percaya, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat manfaat dari apa yang kita kerjakan.

Kanker.

“Saya kira, kanker 5-10 tahun yang lalu tak ubahnya seperti pengumuman kematian yang diberitahukan lebih cepat. Tapi, kalau kita melihat apa yang telah kita lakukan, oleh CTech Edwar Technology, saya kira pekerjaan bisa diibaratkan seperti memberi sebuah “cahaya” kepada tempat yang sudah tidak ada cahayanya lagi.

“Sebagian besar orang belum memahami pentingnya apa yang kita kerjakan. Karenanya kita harus lebih bersabar agar makin banyak lagi orang memahami pentingnya apa yang kita kerjakan.

“Saya mengambil contoh Willy (seorang pasien kanker yang dinyatakan sembuh menggunakan ECCT, karyawan perusahaan), fenomenanya terjadi itu karena kehendak Allah SWT. Karena-Nya kita bisa bersama ada di sini. Hal tersebut telah direncanakan oleh Allah. Willy tidak seorang saja. Ada adiknya, tetangganya, tetangganya tetangga willy. Itu baru beberapa contoh orang saja, sesuatu yang tadinya tidak mungkin, menjadi mungkjn. Itulah arti penting atas karya kita.

“Karena apa yang kita kerjakan sesuatu yg luar biasa maka orang tidak mudah menerimanya. Kalau kita melihat Go-Jek misalkan, sama-sama ditutup izinnya, namun bisa dibuka kembali dalam sehari. Kusrin, karyanya dibakar, sampai kemudian diubah kembali kebijakannya hanya dalam seminggu.

“Apakah yang kita kerjakan tidak lebih layak dari Go-Jek dan Kusrin? Mengapa Menkes sampai detik ini juga belum mengeluarkan keputusan? Menteri tidak perlu datang ke kantor Go-Jek dan Kusrin untuk mengubah kebijakan. Tapi, untuk kasus kita, Menristek sampai dua kali berkunjung ke CTech Edwar Technology (apresiasi untuk Prof Nasir). Menurut saya pun Presiden Jokowi bukan tidak mengetahui apa yang kita kerjakan.

“Ada seorang analis dari Belanda. Dia mengirim email tentang pendekatan yang promising terkait kanker tiga hari yang lalu. Tiga pendekatan tersebut adalah novocure, satu lagi berbasis magnet (lupa), dan ECCT. Dia bilang, dari tiga teknologi dunia ini yang paling menjanjikan dan hasilnya paling efektif adalah ECCT. Kalau kita melihat Willy, memang sesuatu yang kita kerjakan ini riil. Lalu, mengapa kita untuk menolong orang ini rasanya sulit? Itu karena apa yang kita kerjakan adalah sesuatu yang tidak ada perbandingannya di tempat lain.

“Mungkin, kita sendiri kadang tidak yakin mengerjakannya, ‘kok Willy bisa sembuh ya. Orang yang tidak mengerti kanker itu tidak percaya. Membantu Willy itu dianggap kebanyakan orang seolah-olah membantu anak sakit yang kena flu.

“Tetapi kita bukanlah sebagaimana kebanyakan orang.

“Saya kira kalau ada beberapa orang yang juga mampu mengerjakan hal seperti ini, tidak akan banyak. Karena itu, kalian harus merasa bangga dengan apa yang kita kerjakan. Jangan berkecil hati dengan apa yang kita kerjakan itu akan berkurang pahalanya, selama Anda ikhlas mengerjakannya. Tidak perlu kita berkecil hati terkait berkurangnya rezeki kita. Karena, perihal rezeki, tidak ada pengaruhnya dengan apa yang orang lain kerjakan pada kita.

“Seberapa banyak kerja yang harus kita lakukan, mulai dari menyolder sirkuit, dari yang menganilisis hasil medis, menyiapkan makan siang, sampai bapak-bapak yang membantu saya menyiapkan kantor di Modernland tahun 2003.

“Kembali lagi, tidak ada yang perlu kita khawatirkan terhadap apapun juga, karena kita sudah memberikan semua daya dan upaya. Kalau hari ini kita harus berhenti, itu bukan karena kita belum mengeluarkan semua yang kita punya. Kita sudah all out, that’s what makes it counts! Yang namanya rezeki, itu tidak akan tertahan karena tindakan orang lain pada kita. Mungkin selama 3-4 tahun ini kita bisa bersama-sama dan mendapat rezeki. Tetapi kalau kita harus berhenti dulu, Allah tidak akan menahan rezeki kita masing-masing.

“Kemudian, apa yang kita kerjakan tidak akan terhapus oleh apapun dan siapapun. Dalam artian, kalau harus berhenti dulu hari ini, maka pahala itu tak akan berkurang, siapapun yang mengerjakan dan kapanpun dikerjakannya kalau mereka terinspirasi dari apa yang kita kerjakan.

“Kita bersedih karena harus berpisah terlebih dahulu. Tapi itu adalah bagian dari proses, proses untuk meraih yang lebih besar dari apa yang kita dapatkan sekarang. Karena kalau kita tidak pernah menghadapi masalah, kita tidak akan bisa naik ke level yang lebih tinggi.

“Saya melakukan riset sejak 1992 sudah 24 tahun. Sepengetahuan saya, tidak ada satu proses pun yang berlangsung tanpa adanya tantangan maupun cobaan. Saya pernah tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki makanan selama seminggu, kalau makan saat itu, ya numpang. “Gempuran” dimulai dari tahun 2011 dan 2012, saat itu kita bergeming. Tahun 2013 dan 2014 pun sama, kita bergeming. Untuk saat ini, kalau nanti kita bangkit lagi, saya kira kita akan bangkit dengan lebih kuat.

“Apalagi kalau mengingat sebagian besar kalian adalah anak-anak yang baru lulus kemarin. Saya kira kalau Anda semua langsung mencicipi keberhasilan, itu terlalu bagus. Nanti kemungkinan ke depannnya tidak akan menyelamatkan kalian (kalau belum pernah merasakan kegagalan). Jadi, kalian pun memerlukan kegagalan, rasa sedih, dan jatuh. Hanya karena itulah semua akhirnya jadi kuat. Edwar Technology pun memerlukan hal tersebut dan Edwar Technology akan bangkit lebih kuat ke depannya. Jadi, jangan berkecil hati.

“Ini sebuah proses yang kita butuhkan untuk menjadi lebih baik. Kalau kita berhenti dulu, kita bisa menata kembali dengan lebih baik. Untuk karyawan yang harus berhenti dulu, terus terang ini keputusan yang paling berat. Ketika melihat seseorang pergi di hadapan kita dengan menundukkan kepalanya. Saya kira itu yang paling berat. Tapi sekali lagi, saya rasa ini perlu. Insya Allah tidak ada rezeki yang bisa diambil oleh orang lain dari kita. Jadi, kesempatan kali ini bisa kita gunakan. Yang tadinya merasa skillnya belum cukup, bisa diasah kembali. Bagi staf R&D, bisa meluangkan untuk membaca lebih banyak lagi, mengambil kelas, dan pergi sekolah untuk belajar lebih banyak lagi.

“Setelah waktu itu telah diberikan oleh Allah untuk menata apa yang kita kerjakan, saya kira kita bisa berkarya lebih besar. Bukan hanya untuk perusahaan, tetapi juga untuk Indonesia dan terlebih lagi untuk kemanusiaan. Mudah-mudahanan niat baik itu yang bisa menguatkan kita.

“Kita harus berhenti tetapi insya Allah kita kembali dengan lebih kuat. Kembali membuat manfaat untuk kemanusiaan.

“Itu saja, terima kasih.
Wa billahi taufiq wal hidayah. Wassalamu’alaikum wr wb”

IMG_20160125_212346IMG_20160125_193154

 

“Farewell, Edwar Technology. It ends here today, but not before we made a point. It ends here today, but we will come back stronger.” – Dr Warsito

 

 

Map Awareness

Saya merasa sebagai orang yang mungkin terlalu peduli sama yang namanya “map awareness”. Setiap kali berpergian ke suatu tempat yang baru, saya sering memberi perhatian lebih untuk mengetahui posisi saya di mana, utara di sebelah mana, dan arah kiblat yang bener ke mana. Oleh karena itu, Google Maps jadi salah satu aplikasi favorit yang ada di Oneplus saya. Tapi sebetulnya, saya adalah orang yang tidak mengalami kesulitan berarti ketika harus menunjuk arah utara mau pun kiblat, tanpa bantuan kompas apalagi Google Maps. Jadi, Google Maps lebih diperuntukkan sebagai bird-eye view saya. Dibandingkan dengan kemampuan byakugan-nya Neji Hyuga yang bisa memberi penglihatan hampir 360º, ini lebih mirip kemampuan map syncing yang ada di game franchise Assassin’s Creed. Biasanya karakter di game ini memanjat bangunan atau pohon yang sangat tinggi untuk kemudian melihat sekitar dan akhirnya membuka area-area baru di map. Sementara bagi saya, cukup dengan membuka Google Maps. Mengetahui ada apa aja sih di sekitar saya.

screenshot map sekitaran Jakarta
screenshot map sekitaran Jakarta

Misal, kalau dari gambar di atas, kampus Binus berarti ada di arah barat daya RS Harapan Kita. Kemudian, JNE terdekat ada di arah utara RS. Demikianlah, saya lebih mudah mengetahui lokasi-lokasi maupun arah dengan mengandalkan arah mata angin, ketimbang menggunakan deskripsi patokan-patokan di jalanan.

Namun, yang seperti ini juga ada sisi gak enaknya bagi saya. Karena dalam beberapa kesempatan, saya harus naik kendaraan umum di ibukota dan saya nggak kenal sama sekali trayek-trayeknya. Jadi biasanya setiap kali saya naik kendaraan umum, bis misalkan, saya sering kali buka HP lihat map dan bertanya-tanya dalam hati:

Kok, jalan yang diambil bukan jarak terdekat ke tujuan saya? (Menurut map yang saya lihat)

Apalagi kalau naik ojek di ibu kota, sering kali pakai jalan tikus yang saya nggak hapal. Dan lagi-lagi meninggalkan saya dengan penasaran:

Perasaan arah yyy (tujuan saya) di sebelah sana deh. Ini supir ojeknya ngapain muter ke sini, jangan-jangan saya mau diculik

Begitulah. Ada untungnya karena saya jadi lebih mudah menemukan tempat-tempat baru di sekitar, mengungkap “rahasia” area yang baru didatangi serta mengunjunginya, sekaligus lebih mudah membayangkan ketika bertanya ke orang untuk menunjukkan jalan. Tapi kekurangannya, ya saya jadi gak suka naik kendaraan umum, karena rasanya kayak orang yang gak berdaya. Padahal kalau dimanfaatkan dengan baik kendaraan umum bisa ngehemat pengeluaran lumayan signifikan dan untuk beberapa kasus, bisa jadi lebih nyaman serta lebih cepet sampai karena bebas macet, jika dibandingkan dengan membawa kendaraan pribadi. Hidup memang penuh pro dan kontra, hmm.

Cukup sekian tulisan kali ini. Selamat berakhir pekan!

Awal yang Manis

Bismillah,

Kalau kata kakak tingkat di pernikahannya kemarin, nikah dengan teman dekatnya dari SMP (atau SD? Saya lupa), “pernikahan ini kami rasa bukan happy ending, lebih tepat dikatakan sweet beginning”. Kira-kira tulisan kali ini juga demikian. Untuk memulai sesuatu yang baru, sesuatu yang (mudah-mudahan) manis/sweet.

Hari ini tanggal 31 Desember 2015. Agendanya izin gak masuk kantor karena saya harus ke kampus bertemu dengan Ibu Sri, Dekan FMIPA, untuk mengurus surat rekomendasi beasiswa. Jadi kira-kira hari Rabu di bulan Oktober kemarin saya menyempatkan silaturahim juga ke kampus, ke fakultas. Setelah shalat maghrib masih ngobrol sama adik-adik tingkat BEM dan kebetulan melihat Ibu Sri sedang melakukan finger print yang sepertinya sudah mau pulang, mengakhiri harinya. Saya sapa beliau, bersama adik tingkat BEM kami mengadakan obrolan ringan, seperti sudah lulus atau belum, kesibukan saat ini, sampai membahas tentang beasiswa dan studi lanjut. Yang pada akhirnya, alhamdulillaah Ibu Sri menawarkan saya surat rekomendasi. Waah, tentu saja saat itu saya gak kepikiran sama sekali bisa dapat surat rekomendasi dari Ibu Sri. Bukan dosen pembimbing skripsi, memang. Tapi intensitas pertemuan saya dengan Ibu Sri cukup sering. Saya juga beberapa kali main ke ruangannya, sendirian, hanya untuk mencurahkan kegelisahan saya dulu. Ganggu orang banget emang.

Singkat cerita, tanggal 18 Desember saya hubungi beliau lagi untuk meminta surat rekomendasi itu. Beliau bilang “dengan senang hati”. Waah, betapa baiknya, alhamdulillaah. Saya merasa senang begitu saja, rasa senang karena ada seseorang yang menaruh kepercayaan penuh. Rasa senang karena ada orang begitu baiknya memperlakukan saya. Susah dideskripsikannya. Janjian bertemu, ibunya baru bisa diganggu tadi pagi sekitar jam 9. Di ruangannya, kami ngobrol ringan tentang beasiswa LPDP. Karena beliau juga adalah seorang assessor LPDP, mendapat sudut pandang dari seorang assessor membuat obrolan kali ini lebih menarik. Hehe. Untuk surat rekomendasi, saya tawarkan ke beliau, kalau ingin mendapat waktu lebih saya bisa tinggalkan beliau dulu, mungkin saya kembali lagi minggu depan untuk mengambil surat rekomendasinya. Maklum saya menawarkan begini, karena beliau adalah orang yang sibuk. Setahu saya pun di kantornya termasuk yang datang paling duluan dan pulang paling belakangan demi menunaikan amanahnya. Surat rekomendasi saya hanya sebagian kecil urusan dari kesibukannya sebagai seorang Dekan. Tapi Ibu Sri bilang, “nanti kalau seperti itu kamu harus balik lagi minggu depan. Sudah Ibu selesaikan sekarang saja biar kamu gak bolak-balik.” Mendengar hal itu spontan membuat saya tersenyum dan berpikir, inilah kekuatan rahasia Bu Sri sebagai seorang Dekan. Lebih banyak memberi, menaruh kepedulian pada orang-orang di sekitarnya, dibanding memikirkan hak-hak pribadinya, waktunya yang tidak bisa diganggu, dan lain-lain. Akhirnya saya kirim soft file surat rekomendasinya dan Ibu Sri mulai menulis di depan komputernya. Saat itu saya hanya diam di ruangannya, memerhatikan Ibu Sri yang sedang mengetik dan sesekali menerima ketukan pintu dari karyawan dekanat FMIPA untuk meminta wewenangnya di beberapa dokumen.

Pada saat inilah saya berpikir, obrolan saya dengan Ibu Sri tentang LPDP hari ini akan hilang begitu saja karena saya lupa dan keburu sibuk mengurus kerjaan lain. Akhirnya saya memutuskan untuk menulis di kertas tentang apa yang saya dapat hari ini sambil menunggu Ibu Sri selesai. Semua yang saya ingat saya tulis, hal ini menyadarkan saya kembali tentang kekuatan sebuah tulisan. Apa yang kita tulis bisa kita akses lagi di masa yang akan datang. Kalau lupa, tinggal buka catatan. Sehingga saya memutuskan untuk aktif kembali menulis, di blog ini, di catatan pribadi, di kertas kosong, dan lain-lain tentang hal yang melintas di pikiran. Ya, inilah sweet beginning pertama yang saya singgung di awal. Tentang keinginan untuk menulis kembali, mudah-mudahan terlaksana sehingga memang jadi sweet.

Setelah beberapa waktu, Ibu Sri selesai. Saya melihat surat rekomendasi darinya dan berterima kasih. Tanpa berlama-lama, saya pamit. Pertemuan singkat hari ini hanya berlangsung 1,5 jam. Tapi wawasan yang saya dapat akan bermanfaat untuk waktu yang lama. Tentang bagaimana seorang Ibu Sri menaruh kepercayaan ke salah satu mahasiswanya. Seberapa besar kepercayaan dan penghargaan tersebut bisa berpengaruh ke saya. Sehingga yang saya inginkan sekarang adalah menghargai diri sendiri lebih baik lagi. Mengembangkan potensi yang saya punya. Mencoba percaya pada diri sendiri dan meraih apa yang saya inginkan dengan usaha yang baik. Sisanya serahkan pada Allah SWT. Dan inilah sweet beginning kedua. Tentang menghargai diri, semangat mengembangkan potensi, dan menaruh kepercayaan pada diri sendiri. Alhamdulillaah, saya yakin ini sudah takdir Allah untuk saya bertemu Ibu Sri hari ini. Bisa mendiskusikan topik yang menggerakkan saya ke tahapan selanjutnya, yang lebih baik, mudah-mudahan. Terima kasih, Ibu Sri! :)